DEKADE
“Pak, saya izin ke UKS yah. Ngga kuat.”
Selasa jam sepuluh pagi. Ketika itu pelajaran matematika Pak Sarmin. Hari hari dimana aku baru saja berkenalan dengan penyakit kambuhan bernama sinusitis. Pagi itu aku minum fanta dingin sehabis pelajaran olahraga. Inilah akibatnya kunikmati sekarang. Pening. Serasa mendesing. Karenanya aku memutuskan untuk berbaring saja di UKS.
Kamu menjemputku setengah jam kemudian di waktu istirahat kedua. Meraba keningku yang katamu hangat.Wajahmu terlihat khawatir. Seperti biasa kamu selalu sangat peka pada hal hal detil. Kamu memapahku ke kelas dan menyuruhku minta izin pulang lebih cepat.
Masih lekat di ingatanku, mimik menyebalkan anak anak gaul yang sering nongkrong di lorong sekolah ketika melihat kita keluar dari ruang UKS. Mereka bicara berbisik bisik ngalor ngidul tapi aku bisa mendengarnya jelas. Aku rasa kamu pura pura tidak peduli. Badanku lemas waktu itu tapi telingaku ternyata masih bisa panas mendengar apa yang mereka bicarakan.tentang kita. Tentang kamu. Egoku terusik , tak rela dianggap remeh temeh. Memang kita jauh dari keren. Culun. Tapi siapa kalian bisa membuat justifikasi ? Sama-sama baru berseragam putih biru kok.
Saat itu aku bicara setengah berdoa,
“Kita lihat yah sepuluh tahun lagi. Mereka ada dimana. Kamu. Kita ada dimana”.
Kamu diam saja. Menatapku dalam dalam. Mengalihkan perhatian.
Kuhirup champagne perlahan. Langit kian legam . Pipi bulan sabit mengerling temaram. Menyinari Bayon Temple, tempat gala dinner malam itu. Terompet khas Cambodia mengiringi ethnic dance yang sedang memainkan lakon hanoman dan ikan mas. Kupulas kembali lipstick yang memudar. Kuperhatikan sekitar.
Di deretan meja bundar itu aku duduk bersama tiga ratus manusia dari negara yang berbeda-beda di ASEAN. Tiga ratus amunisi dunia dengan ide brilian dan semangat kerja keras dua puluh empat jam setiap hari. Aku kagum,sekaligus ngeri. Sungguh besar tanggung jawab yang harus mereka pikul. Tiga ratus karakter terpilih yang mampu membangunkan perusahaan mati suri, membuat strategi penetrasi produk hingga merekonstruksi citra suatu negara. Apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Apa yang tidak ada menjadi ada. Beyond expectations. Dan satu diantara tiga ratus manusia hebat ini adalah kamu.
Rasanya trenyuh melihatmu bertumbuh. Walau sesungguhnya aku tidak heran melihatmu menjadi bagian orang orang ini. Entah bagaimana aku sudah tau sejak dulu. Sejak aku bicara padamu di depan UKS waktu itu. Cahaya matamu yang mengatakannya terang terangan padaku. Bahwa tidak akan lama lagi kamu akan jadi seorang pria hebat.
“Sayang, bandelnyaaaaaa. Ngga boleh minum dingin! Nanti sinusitisnya kambuh”.
Gusti Allah memang luar biasa baik. Dia tidak merubahmu menjadi orang lain, sepuluh tahun ini. Seperti biasa, kamu selalu sangat peka pada hal-hal detil. Dan itu yang membuatku selalu jatuh cinta. Kujauhkan gelas champagne. Lantas kucium pipimu.
